Sepeda Setiap Hari

Haiii!! Kembali lagi dalam blog saya. Kali ini saya akan bercerita tentang salah satu kegemaran lama saya yang menjadi pengalaman tidak menyenangkan bagi saya. Dulu saya punya kegemaran bersepeda. Bersepeda yang dimaksud bukanlah bersepeda yang sampai menanjak-nanjak gunung maupun bersepeda disepanjang pantai, namun bersepeda berkeliling perumahan. Dulu selama SD pukul 3 sore saya sudah berkeliling-keliling naik sepeda bersama dua orang tetangga saya. Hal itu kami lakukan secara rutin dari hari Senin sampai Jumat. Jika sudah puas berkeliling-keliling, kami pasti bergiliran bermain ke rumah masing-masing, misalnya hari Senin bermain ke rumah saya, hari Selasa ke rumah A, hari Rabu ke rumah B, dan hal itu terjadi berulang-ulang.

Walaupun saya dulu sangat suka bersepeda, tetapi pengalaman tidak menyenangkan itu pasti pernah terjadi, yaitu jatuh dari sepeda. Saya sudah belajar naik sepeda semenjak sebelum sekolah. Dulu pada awal naik sepeda, tentunya saya menaiki sepeda beroda 4. Lalu saat TK saya mempunyai sebuah sepeda roda 4 yang sebenarnya, yang sudah tidak bisa didorong lagi. Pernah pada suatu sore saat sudah mau sampai rumah, saya menggoes sepeda saya menuju ke sebuah tanjakan. Ternyata saya tidak kuat menggoes dan tiba-tiba sepeda saya beserta saya sendiri jatuh kea rah belakang. Seingat saya saat jatuh itu cukup sakit, namun tidak sampai berdarah. Tak hanya ke belakang, saya juga pernah jatuh ke samping. Menurut saya jatuh ke samping itu lebih menyakitkan daripada jatuh ke belakang karena saat jatuh ke samping, yang mengenai tanah atau aspal duluan adalah lutut saya, dan pasti berdarah. Saya adalah orang yang takut dan dapat dikatakan fobia dengan darah, dan bahkan saya tidak kuat menahan sakit serta perih. Jika terjatuh dari sepeda dan sampai berdarah, saya pasti tidak mau diobati dengan “Betadine”. Saya bisa menangis terlebih dahulu jika mama saya mau mengobati luka saya karena takut darah dan takut sakit. Yang ketiga saya pernah jatuh dengan cara yang tidak biasa. Dulu teman saya pernah mengajarkan saya menaikan kaki saya ke atas bagian sepeda yang menyambungkan antara roda depan dengan roda belakang saat bersepeda. Ntah bagaimana caranya saya sok-sok-an mengikuti mereka. Alhasil saat sudah hampir sampai depan rumah kaki saya tersangkut pada benda yang saya gunakan untuk meletakkan kaki saya itu dan terjatuh di depan rumah tetangga saya yang anjingnya sangat galak. Saya panik dan sangat takut, tetapi untungnya karena anjing tetangga saya itu sangat berisik, maka tetangga saya keluar dari rumahnya dan membantu saya. Semenjak hari  itu saya kapok mengangkat-angkat kaki saat bersepeda.


Selain pengalaman jatuh dari sepeda, saya juga pernah mengalami hal tidak menyenangkan saat bersepeda. Saat itu saya sedang perjalanan pulang menuju rumah. Sedang asik-asiknya melihat langit yang mulai kemerahan akibat matahari terbenam, tiba-tiba ada sesuatu yang mengenai tangan saya. Rasanya tidak biasa, sedikit basah dan agak hangat. Setelah saya lihat ke atas, ternyata ada burung yang baru saja melewati saya. Lalu saya baru menyadari bahwa tadi ada burung yang buang air besar dan tainya jatuh tepat ditangan saya. Ihhh itu sangatlah menjijikan. Tetapi ada satu kejadian lagi yang lebih menjijikan dari itu. Suatu sore saya sedang memarkirkan sepeda saya di pinggir lapangan, tepat di samping selokan. Saat itu kebetulan sekali standard sepeda saya sedang sedikit goyang dan belum dibetulakan, sehingga sepeda saya mudah terjatuh jika disenggol. Tak sengaja ada seseorang yang menyenggol sepeda saya dan menyebabkan sepeda saya itu terjatuh. Sialnya sepeda saya bukan jatuh ke arah lapangan, tetapi jatuh tepat ke dalam selokan dengan posisi kursi berada dibawah. Saya shock saat melihat kejadian tersebut dan hanya dapat menatap sepeda malang saya itu. Untung saja lapangan tersebut terletak di belakang rumah saya, sehingga dengan berat hati dan jijik saya menggeret-geret sepeda saya yang baru saja mencebur ke dalam selokan. Sesampainya di rumah mau tidak mau saya harus mencuci sepeda tersebut. Semenjak hari itu saya tidak pernah memarkirkan sepeda saya di samping selokan lagi, kalaupun kepepet saya akan menidurkan sepeda saya disamping selokan agar lebih tidak mudah terjatuh. Begitulah salah satu kegemaran saya yang memiliki pengalaman terburuk terbanyak. Kalau begitu, sampai jumpa pada cerita-cerita selanjutnya!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Clara atau Elen?

Kebiasaan yang Tidak Biasa

Papa atau Mama yang Anti Mainstream?