Papa atau Mama yang Anti Mainstream?
Hai!! Kembali lagi diblog saya!!
Pada postingan kali ini, saya akan menceritakan sedikit tentang kedua orangtua
saya. Papa saya bernama Emanuel Wahyu Saptomo dan biasanya dipanggil Pak Wahyu.
Saptomo bukan nama keluarga, tetapi "sapta" artinya tujuh karena papa
saya lahir tanggal 7 Agustus 1961 di Yogyakarta tepat seminggu sebelum Gerakan
Pramuka resmi diperkenalkan pada masyarakat yang sekarang diperingati sebagai
Hari Pramuka. Papa saya merupakan anak ketiga dari enam bersaudara dan
merupakan anak laki-laki terakhir dari tiga anak laki-laki yang dilahirkan oleh
nenek saya. Sebuah fakta menarik dari keluarga papa saya, mereka memiliki nama
baptis yang urut sesuai abjad. Kakek saya bernama Antonius Yohanes, nenek saya
bernama Benedikta, dan saudara-saudara papa saya dari yang tertua bernama
Carolus, Damianus, Emanuel (papa saya), Fransiska, Germana, dan yang terakhir
ini memang sedikit aneh karena tidak berinisial H yaitu Elisabet. Keluarga papa
saya tinggal di Yogyakarta sehingga sering kali papa saya disebut sebagi orang
Jogja padahal jika dilihat dari silsilah keluarga, kakek dan nenek saya adalah
orang Solo.
Begitulah cerita tentang papa
saya. Sekarang kita beralih ke cerita tentang mama saya. Berbeda dengan papa
saya, mama saya memiliki nama yang anti mainstream yaitu Kingkin Kristina. Saya
juga kurang tau apa arti dari nama Kingkin, tetapi jika saya cari diinternet,
Kingkin berarti jadi kerinduan orangtua. Karena tidak biasanya nama tersebut,
banyak orang sering salah menyebut mama saya, seperti “Kinkin” atau “Kingking”
dan bahkan ada yang pernah menyebutnya “Cincin”. Mama saya lahir di Magetan,
Jawa Timur, tanggal 14 Maret 1969 yang berarti mama dan papa saya memiliki
jarak umur cukup jauh, yaitu 8 tahun. Mama saya adalah anak ketiga dari lima
bersaudara dan merupakan anak perempuan terakhir dari dua anak perempuan.
Papa saya bekerja sebagai
arkeolog di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, sedangkan
mama saya bekerja sebagai karyawati swasta pada suatu perusahaan distributor
makanan import. Menurut saya pekerjaan papa saya lebih menyenangkan daripada
pekerjaan mama saya. Dengan pekerjaannya itu, papa saya sering pergi ke
daerah-daerah di Indonesia untuk melakukan penelitian. Daerah yang paling
sering papa saya datangi untuk melakukan penelitian adalah Nusa Tenggara Timur,
khususnya di Pulau Flores. Di sana papa saya melakukan penelitian terhadap Homo floresiensis (sering disebut
sebagai “Hobbit” karena ukuran tubuhnya kecil seperti pada film The Hobbit) yang ditemukan di Goa Liang
Bua. Selain ditemukan tulang-belulang dari Homo
floresiensis, ditemukan pula tulang-belulang hewan purba seperti Stegodon (gajah purba) dan tikus
raksasa. Selain bekerja, papa saya juga berlibur ke daerah-daerah dekat tempat
penelitianya itu seperti ke Labuan Bajo. Dulu saat saya masih kecil, papa saya
sering dinas ke Flores sampai 1 bulan lamanya, namun karena sekarang karena
hasil penelitiannya itu sudah terbukti, maka ketika dinas ke Flores hanya
sekitar 1 minggu lamanya. Itulah mengapa menjadi arkeolog adalah perkejaan yang
menyenangkan bagi saya. Sampai di sini dulu cerita mengenai orangtua saya. Jangan
lewatkan cerita-cerita saya selanjutnya!!!

Clara kereenn:))
BalasHapus