Gomez Jilid 1 (3)
Hai hai hai!! Kembali lagi dalam
blog saya!! Pada posting-an ini saya
akan menyelesaikan cerita saya yang sebelumnya, yaitu berlibur ke Jogja bersama
teman-teman saya. Pada cerita terakhir, saya dan teman-teman saya sangat kecewa
karena tidak jadi melihat sunrise
akibat hujan yang sangat deras. Lalu kami semua tertidur, dan tak sadar jam
sudah menunjukan pukul 8 pagi. Karena sudah mandi pukul 1 pagi tadi, kami
langsung sarapan dan siap-siap untuk pergi. Pagi ini karena sudah sangat
kecewa, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Gereja Ganjuran. Gereja Ganjuran
adalah sebuah gereja tradisional di mana terdapat patung Yesus yang terbuat
dari batu dan diletakkan disebuah candi. Setiap kali saya ke Jogja, saya pasti
berkunjung ke tempat ini. Kira-kira pukul 12 kami memutuskan meninggalkan
Ganjuran dan mencari rumah makan untuk mengisi perut kami yang sudah lapar.
Namun saat keluar dari pintu gerbangnya, tiba-tiba kami melihat seseorang yang
sangat familiar. Eh ternyata orang tersebut adalah ayah dari seorang teman
misdinar kami. Tak lama kemudian seluruh keluarganya datang dan menemui kami. Teman
kami yang kami temui ini tiga bersaudara, dan awalnya kami mau mengajak dua
orang dari mereka, tetapi akhirnya tidak jadi. Namun siapa yang menyangka bahwa
kami memang ditakdirkan bertemu di Jogja. Tak lama setelah foto-foto dengan
mereka, kami pergi makan siang. Rencana
awal setelah makan siang adalah pergi ke gumuk pasir, namun kami tidak jadi ke
sana karena malamnya habis hujan, sehingga pasirnya padat dan basah. Untuk
kedua kalinya kami dikecewakan oleh hujan hari itu. Untung saja supir kami ini
sudah sangat berpengalaman, sehingga ia mengajak kami ke Taman Pintar.
Sebelumnya saja tidak pernah ke Taman Pintar. Taman Pintar ini merupakan sebuah
tempat edukasi yang ditampilkan secara menarik dan mirip dengan Museum IPTEK di
TMII. Kami tiba di sana kira-kira pukul 3 sore, sedangkan Taman Pintar ini
tutup pukul 4 sore, sehingga kami belajar kilat, hanya 1 jam sambil
berlari-lari agar seluruh bagian dapat kami datangi. Setelah berkeliling di
dalam Taman Pintar, supir kami mengajak kami ke Candi Ratu Boko untuk melihat sunset, hitung-hitung untuk mengurangi
kekecewaan kami dari pagi. Tentu saja kami sangat antusias dan bersemangat.
Lalu cepat-cepat kami ke Candi Ratu Boko agar dapat mengejar sunset.
Saat sampai di Candi Ratu Boko,
ternyata candi tersebut cukup ramai didatangi para pengunjung, namun kami dapat
menemukan spot bagus untuk berfoto
dan menikmati sunset. Tetapi kami
sedikit kecewa karena saat itu langitnya cukup berawan. Walaupun begitu saya
tetap dapat menikmatinya karena saya di sana bersama dengan teman-teman saya.
Nah, mulai dari sinilah petualangan AADC kami dimulai. Rasanya ada yang kurang
jika ke Jogja tidak berkunjung ke Malioboro, untuk itu kami lanjut jalan-jalan
ke Malioboro. Namun sebelum ke Malioboro, tidak lupa kami mampir ke angkringan
untuk makan malam. Setelah puas berjalan-jalan disepanjang Malioboro, kami
lanjut ke Alun-alun Kidul Yogyakarta yang terdapat dua pohon beringin ditengahnya.
Kami bersepuluh masing-masing mencoba melewati kedua pohon beringin tersebut dengan
mata tertutup yang konon katanya keinginan kita dapat tercapai jika kita
berhasil melewatinya tanpa menabrak pohon, namun tidak ada yang berhasil.
Karena tidak ada yang berhasil, maka kami duduk dan membeli beberapa cemilan
yang dijual di sekitar situ. Saat itu langit sedang terang sehingga kami dapat
menikmati malam di Alun-alun Kidul Yogyakarta sambil melihat bintang-bintang.
Saat sedang asik menikmati cemilan, tiba-tiba seorang teman kami yang
"dituakan" memecah suasana dengan menawarkan jika besok pagi tidak
hujan kami akan melihat sunrise untuk
mengganti kegagalan tadi pagi. Wah dengan senangnya kami menerima tawaran
tersebut. Tak lama setelah itu, kami kembali ke rumah. Secepat-cepatnya kembali
ke rumah, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Dan malam
itu lagi-lagi saya tidak tidur, melainkan nobar di ruang tamu sambil menunggu
sampai pukul 1 pagi. Dan untuk kedua kalinya saya mandi dan keramas pukul 1
pagi menggunakan air dingin di Jogja. Nggak lagi-lagi deh mandi jam 1 pagi.
Puji Tuhan subuh ini langit cerah dan tidak hujan, sehingga pukul 3 pagi kami
sudah berangkat menuju spot sunrise
yang sudah kami incar semenjak kemarin. Kami menonton sunrise di tempat yang
bernama Punthuk Setumbu yang merupakan tempat syuting film AADC 2. Untuk
mencapai tempat tersebut, kami perlu mendaki sejauh setengah kilometer. Wah
parah sih, jam 4 pagi mendaki sejauh setengah kilometer itu worth it banget dengan pemandangan yang
disajikan di Punthuk Setumbu. Walau saat itu sedikit berkabut, tapi kami tidak
menyesal pergideh kami ke sana. Kurang lengkap kalau ke Punthuk Setumbu tetapi
tidak ke Gereja Ayam, sehingga kami menyempatkan berjalan melewati semak-semak
menuju ke Gereja Ayam untuk dapat melihat pamandangan dari spot yang sudut pandanganya lebih luas. Wah ternyata tidak kalah
keren dengan spot sunrise yang
sebelumnya. Setelah puas menonton sunrise,
kami kembali ke mobil dan lanjut sarapan. Sesampainya dimobil, semua orang
langsung tertidur karena kelelahan. Begitu pula saat sarapan, menurut saya
sarapan pagi itu adalah sarapan terhening kami karena semua orang hanya dapat
saling menatap dan tak kuat untuk mengucapkan sepatah kata karena saking
teparnya. Untung saja pagi itu kami disegarkan oleh soto kudus yang hangat.
Sesudah kenyang, kami kembali ke rumah dan siap-siap karena pukul 4 sore kami sudah
harus kembali ke Jakarta. Tak lupa, siangnya kami makan siang terlebih dahulu.
Menu makan siang kami ini berbeda dari makanan-makanan yang sering disajikan di
kota pelajar ini, yaitu tengkleng gajah. Tengkleng gajah ini bukan benar-benar dari
gajah, namun daging yang dimakan adalah daging kambing namun porsinya besar,
sebesar “gajah”.
Selama di Jogja, liburan kami ini
serba kebetulan. Pertama kami kebetulan tiga kali bertemu dengan teman dari
Jakarta, yaitu bertemu dengan satu keluarga di Ganjuran dan satu lagi bertemu
dengan satu keluarga lainnya di De Mata dan De Arca, yang tanpa disengaja kami
bertemu lagi di Kalimilk. Kebetulan juga Punthuk Setumbu yang kami kunjungi itu
ternyata satu garis lurus dengan Candi Borobudur yang dengan kata lain satu
garis lurus pula dengan Candi Pawon dan Candi Mendut. Selain itu liburan kami
ini juga serba nyaris. Pertama, saat kami ke Punthuk Setumbu, ternyata keesokan
harinya tempat tersebut tidak hanya satu garis lurus dengan Candi Borobudur,
namun satu garis lurus pula dengan matahari terbit, lebih tepatnya pada tanggal
25 Juni. Kedua, saat kami di Kalimilk, kami memesan 10 gelas susu. Karena itu,
kami mendapat kupon gratis untuk 1 gelas susu, dan kupon tersebut berlaku
keesokan harinya, di mana kami sudah harus kembali ke Jakarta. Dan yang
terakhir, saat ke De Mata dan De Arca, ternyata kami terlalu cepat satu hari,
karena keesokan harinya dibuka wahana baru di sana, sehingga spot fotonya lebih banyak. Sungguh
sangat disayangkan, namun walau begitu pengalaman ke Jogja yang satu ini tidak
pernah dapat saya lupakan. Akhirnya selesai sudahlah cerita saya tentang
liburan di Jogja. Jika kalian masih penasaran dengan cerita saya yang lainnya, tunggu
saja diblog ini. Sampai jumpa dicerita selanjutnya!!



Komentar
Posting Komentar