Cita-cita untuk Menyelamatkan Bumi

Hai, kembali lagi dalam blog saya!! Jika pada beberapa posting-an sebelumnya saya banyak bercerita tentang pengalaman saya bersama dengan teman-teman saya, pada posting-an kali ini saya akan bercerita kembali tentang diri saya, tepatnya tentang cita-cita saya. Semenjak kecil sampai sekarang, cita-cita saya sudah banyak berubah. Mulai masuk sekolah, kita pasti sudah sering diperkenalkan dengan berbagai jenis profesi dan salah satu profesi yang mampu menarik perhatian saya saat TK adalah sebagai dokter gigi. Saya juga tidak ingat pastinya bagaimana saya bisa ingin menjadi seorang dokter gigi, padahal sampai sekarang saja saya tidak pernah pergi ke dokter gigi. Keinginan saya untuk menjadi seorang dokter gigi kandas ketika ada seseorang yang bertanya kepada saya, jika besar nanti mau jadi apa. Setelah saya menjawab ingin menjadi dokter gigi, orang tersebut berkata bahwa menjadi dokter gigi itu tidak enak karena harus memeriksa mulut orang dan mulut orang-orang itu bau. Sehingga sejak saat itu saya mulai berganti cita-cita menjadi dokter anak. Hal ini terjadi dimasa-masa ketika guru di kelas bertanya siapa saja yang mau menjadi dokter, dan 90% anak mengangkat tangan dengan antusias. Dulu saat kecil saya memiliki penyakit amandel, sehingga setiap 6 bulan sekali amandel saya pasti kambuh dengan gejala demam dan radang tenggorokan. Untuk itu saya selalu ke rumah sakit setiap 6 bulan sekali. Dokter yang menangani saya sangat baik dan ramah, sehingga saya ingin menjadi seperti dokter-dokter tersebut yang mampu menangani setiap pasiennya dengan baik.

Cita-cita saya menjadi seorang dokter anak juga harus kandas saat saya duduk di kelas 5 SD. Pada posting-an awal, saya pernah menceritakan bahwa papa saya bekerja menjadi seorang arkeologi. Dari yang saya perhatikan, menjadi seorang arkeologi itu sangat menyenangkan, karena papa saya sering ditugaskan keluar kota, bahkan keluar negeri untuk melakukan berbagai penelitian pada benda-benda dan makhluk-makhluk purba.  Karena itu saya tertarik menjadi seorang arkeolog seperti papa saya. Saat itu saya sudah cukup yakin dengan cita-cita tersebut, namun pada kelas 6 SD saya diperkenalkan dengan bab tata surya pada pelajaran IPA. Parah, tata surya mampu lebih menarik perhatian saya dibandingkan dengan arkeologi. Saya memang suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan geografi dan biologi, karena saya lebih suka menghafal dibandingkan menghitung. Pelajaran tentang tata surya saat SD ini sangat banyak kaitannya dengan geografi. Bahkan guru IPA saya sampai tahu bahwa saya sangat menyukai tentang tata surya dan mendukung saya untuk mempelajarinya. Guru saya ini merekomendasikan saya untuk masuk jurusan astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Semenjak itu saya menjadi sering mencari tahu tentang astronomi dan ternyata memang itu yang saya sukai. Setelah banyak menonton film tentang astronomi, salah satunya adalah film komedi berjudul “RocketMan”, akhirnya saya meyakinkan diri untuk menjadi seorang astronot. Tetapi setelah saya mencari-cari informasi, ternyata sangat sulit menjadi seorang astronot karena resiko yang sangat besar. Selain itu menjadi astronot tidak dapat dari jurusan astronomi karena astronomi merupakan ilmu yang mempelajari benda langit dan fenomena alam di luar atmosfer bumi. Sedangkan menjadi seorang astronot harus mempunyai kemampuan pada bidang tertentu, misalnya matematika, fisika, biologi, atau kimia. Sehingga pada saat mau lulus dari SMP, saya memikirkan lebih baik saya menjadi seorang astronom saja. Sampai SMA, saya masih bercita-cita menjadi seorang astronot, dan senangnya saya menemukan seorang teman pula yang sama-sama menyukai astronomi. Pada kelas 11 kemarin kami berdua mencoba untuk mengikuti Olimpiade Sains pada bidang astronomi. Sayangnya saya tidak dapat lanjut, namun teman saya tersebut dapat lanjut ke tingkat selanjutnya. Sejak saat itu keinginan saya menjadi seorang astronom lagi-lagi kandas, karena ternyata yang saya ketahui saat SD tentang astronomi itu baru bagian kecilnya. Sesungguhnya astronomi tidak hanya berisi tentang geografi saja seperti yang saya tahu, namun sebagian besarnya adalah perhitungan matematika dan fisika. Saya baru menyadari bahwa semua pelajaran fisika yang saya pelajari di kelas adalah dasar-dasar dari penerapan astronomi.


Karena adanya kekosongan cita-cita dan berhubung sudah mau lulus SMA, saya mulai mencari-cari informasi dari berbagai jurusan yang kira-kira saya minati. Salah satu jurusan yang mampu memikat hati saya adalah jurusan oseanografi. Oseanografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang samudera dan lautan. Jurusan ini berkaitan erat dengan geografi dan biologi. Namun begitu, matematika dan fisika masih banyak digunakan pada jurusan ini. Saya beranggapan sayang saja jika saya sudah 6 tahun belajar fisika tetapi tidak saya gunakan saat besar nanti, sehingga saya mematangkan pilihan saya untuk memilih jurusan oseanografi saat kuliah nanti dan bercita-cita menjadi seorang oseanografer. Dari kecil orang tua saya memang sudah mendekatkan saya dengan lautan dan saya sendiri memang suka dengan alam, sehingga nantinya saya ingin bekerja di bagian konservasi karena yang saya lihat, semakin hari bumi kita ini semakin rusak akibat perilaku manusia yang mengeksploitasi bumi dan tidak mau memeliharanya serta melestariakannya. Setiap cita-cita yang saya inginkan biasanya berdasar pada keingintahuan saya terhadap hal-hal yang belum banyak diketahui manusia. Misalnya pada bidang astronomi saya bertanya-tanya sebesar apakah luar angkasa itu, dan apakah benar-benar ada yang namanya alien. Sedangkan pada oseanografi, saya sering bertanya-tanya tentang segitiga bermuda, tentang apa saja yang ada dilaut dalam. Apalagi didukung oleh suatu film yang belum lama dirilis berjudul “The Meg” yang menceritakan tentang hewan purba bernama megalodon yang ternyata masih hidup di bawah suatu lapisan yang jaraknya sangat jauh dari permukaan laut pada Palung Mariana. Walaupun saya tahu bahwa film tersebut hanya sebuah fiksi, namun siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Dan yang terakhir yang membuat saya semakin tertarik dengan oseanografi adalah hanya sedikit bagian lautan yang baru dapat dijelajahi dan dipelajari manusia, padahal lautan sendiri besarnya 70% dari seluruh permukaan bumi. Demikianlah cerita tentang perkembangan cita-cita saya mulai dari TK hingga saat ini. Saya berharap dari cerita ini, kita masih memiliki hati yang mau menjaga, melestarikan, dan melindungi bumi kita ini dari hal-hal yang dapat merusaknya. Ayo kita jaga bumi kita yang sudah menyediakan segala hal yang kita butuhkan!!




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Clara atau Elen?

Kebiasaan yang Tidak Biasa

Papa atau Mama yang Anti Mainstream?