Untung dan Malangnya Seorang Kakak


Hai!! kembali lagi ke dalam blog saya!! Pada postingan kali ini, saya akan menceritakan beberapa hal tentang saudara saya. Saya memiliki seorang adik perempuan bernama Monica Bonita Putri yang sudah saya singgung sedikit pada postingan pertama. Saya dan adik saya berbeda 5 tahun, tepatnya dia lahir pada 23 Desember 2005. Awalnya adik saya ini diperkirakan lahir tepat pada hari Natal, namun ternyata perkiraan tersebut meleset 2 hari. Jika nama saya diambil dari nama seorang penumpang travel, lain halnya dengan adik saya. Nama Monica diambil dari nama seorang santa. Mama saya yang menginginkan nama tersebut, namun nama Bonita adalah nama yang diberikan oleh papa saya. Dulu papa saya sempat tinggal di Timor Leste selama 8 tahun untuk dinas. Namun akhirnya papa saya kembali ke Indonesia ketika Timor Leste lepas dari Indonesia pada tahun 1999. Karena papa saya dulu tinggal di Timor Leste, papa saya menjadi bisa sedikit berbahasa Timor dan memberikan nama adik saya Bonita yang artinya cantik.

Saat ini adik saya duduk dikelas satu SMP di SMP Santa Ursula. Karena beda umur kita berdua adalah 5 tahun, selalu hanya satu tahun saya satu sekolah dengan adik saya. Seperti saat ini saya kelas 12, sedangkan adik saya baru kelas 7 di sekolah yang sama. Hal ini juga pernah terjadi saat SD. Dulu saat saya SD kelas 6 di SDK Sang Timur Cakung, adik saya baru masuk kelas 1 SD. Sampai saat ini, saya dan keluarga saya menganggap  bahwa adik saya memiliki kecerdasan yang lebih baik dibandingkan saya. Namun dengan kecerdasannya itu, tidak membuat perilakunya lebih baik dari saya. Malah terkadang dia lebih malas dari saya, walau pada dasarnya saya sendiri juga pemalas.

Dulu, pas saya masih TK, saya memang sangat menginginkan seorang adik perempuan dengan harapan dapat diajak bermain bersama dan melakukan hal-hal lain bersama. Namun setelah adik saya beranjak dewasa, semuanya tidak sesuai dengan keinginan dan harapan saya. Dia cukup menyebalkan dan terkadang sering merasa sombong dengan segala pencapaiannya. Namun dibalik itu semua, saya merasa bersyukur karena jika saya menjadi anak satu-satunya orangtua saya, bisa saja saya memiliki perilaku yang kurang baik itu, sering dimanjakan, dan mungkin saya akan sering merasa puas sehingga menjadi sering sombong terhadap pencapaian saya. Selain itu, saya juga bersyukur bisa menjadi seorang kakak walaupun sering dimarahi dan disalahkan apabila adik saya tersakiti atau tidak mendapatkan apa yang diinginkan, karena dengan begitu saya merasa bisa lebih mandiri dan bisa lebih bersabar. Tetapi jangan salah, jadi seorang kakak itu juga ada keuntungannya. Jika orangtua sedang tidak dalam jangkauan, terkadang adik dapat dijadikan bahan suruhan untuk membantu memenuhi kebutuhan saya hehehe. Tidak baik sih, tetapi jika sekali-sekali dicoba, apa salahnya? Yaa cukup sekian cerita tentang adik saya, ditunggu yaa untuk cerita-cerita selanjutnya!! Sampai jumpa!!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Clara atau Elen?

Kebiasaan yang Tidak Biasa

Papa atau Mama yang Anti Mainstream?